Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2015

Pergi Untuk Kembali


Untukmu yang terlupakan
Karena sejenak ku hilangkan
Dalam penat kekhilafan
Engkau telah kutinggalkan

Besok aku akan kembali
Menuju peraduan sepi
Tiada bunyi kutemui
Walau aku ingin pergi

:Kau tetap akan menanti

Sabtu, 25 Oktober 2014

Bila malam bertambah malam

Bila malam bertambah malam
Angin enggan untuk mengetuk
Hujan enggan untuk berjingjit
Jangkrik mulai untuk meringkik

Bila malam bertambah malam
Aku malas untuk bermimpi 
Engkau malu untuk kembali
Pasti datang untuk mengisi

Bila malam bertambah malam
Kapan gelap akan tiada?
Kapan sepi akan menghilang?
Kapan kamu, kapan aku?

Shine

Aku ingin menyinarimu
Dan selalu seperti matari yang tak pernah bosan
Aku ingin melindungimu dari kegelapan
Seperti itulah kebenaran hatiku

Kita bisa menyatukan dua jalan 
Dalam hati kita yang berbeda lalu
Walalu ini tak bisa membantumu bangkit
tapi percaya pada sinar di ujung jalan itu

Mengerndarai angin kita terbang ke tempat yang berbeda
Melintasi lautan, melintasi waktu, ini pasti akan berbunga
Seperti matari, di setiap hari, di setiap waktu
Aku ingin melingdungimu

Senin, 20 Oktober 2014

Untuk Penariku

Jariku ikuti geliat indah udara, dalam gerak indah gemulai mega
serta padat kepak malaikat dalam cuaca.
Disamping naungan senja, Tubuhku menyerap ombak
sembari menahan angin buritan.
Bersama malam kulalui hampanya kekekalan
yang melewati tiap samudra penyesalan.

Wahai... engkau penariku
Kedip mata yang salurkan kerinduan
dalam keindahan gerak kesendirian.
Tarianmu bagaikan kesunyian malam
yang mulai pudar oleh keheningan subuh.
Tiap sesal yang selalu aku titipkan dalam puisiku
tak pernah mampu menyentuhmu.
Bayang indah gerak yang selalu terindukan
ialah mata kematian dalam ujung penaku.

Minggu, 19 Oktober 2014

Elalio

Malam kembali berwnyanyi
Menghidupkan citra yg mungkin hilang
Bersama bulan yg mulai meringkik oleh kilat
Diantara rintikan hujan aku berdiri
Mencari pertanyaan atas jawaban hati

Apakah kau tahu apa yang aku rasa?
Seperti mencari jarum di tumpukan jerami
Kau takkan pernah sadar apa yang aku rasa
Beribu cara telah ku coba
Hingga ku suruh angin menyampaikan pesan cinta

Ah cinta yang fana
Dalam beribu kata fakta
Dalam seonggok kasih serta sayang
Yang berakhir dalam lumbung kehampaan

Senin, 21 Juli 2014

Disaat Aku Tak Menulis Lagi

Sampai ketika mataku menutup tenggelam
Terpejam akan kelam dan tinggal hitam
Jemari pun juga enggan
Gemulainya kata tak jadi sajak terang

Dunia ini indah
Sang surya akan terus bersinar
Menerangi bait-bait yang lama hilang
Tertelan oleh keadaan

Tutuplah jendela ini
Agar aku menulis dengan tenang
Hanya tinggal satu bayang
Bayanganmu yang ku impikan

Jumat, 16 Mei 2014

Hatiku Menggambar Mimpi

Lihat, angin mulai bergerak
Aku masih tak ingin menyerah
Aku bisa rasakan matahari melewati awan
Dan bila disana angin haluan

Hatiku menggambar sebuah mimpi
Ku terbang tinggi dengan bebas, kemanapun aku ingin pergi
Hatiku menggambar sebuah mimpi
Ketika ku buka mataku dimana aku mendarat…
Aku merasa aku kan melihatmu tersenyum
Ku harap aku melihatmu

Senin, 28 April 2014

Cinta?

Bila telapak tanganmu berkeringat,
Hatimu dag dig dug,
Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,
Itu bukan cinta, tetapi SUKA.

Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
Itu bukan cinta tetapi BIRAHI.

Bila kamu menginginkannya karena tahu
Ia akan selalu berada di sampingmu,
Itu bukan cinta tetapi KESEPIAN.

Bila kamu menerima pernyataan cintanya
Karena kamu tak mau menyakiti hatinya,
Itu bukan cinta tetapi KASIHAN.

Bila kamu bersedia memberikan semua
Yang kamu sukai demi dia,
Itu bukan cinta tetapi KEMURAHAN HATI.

Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya
Kepada semua orang,
Itu bukan cinta tetapi KEMUJURAN.

Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah
Satu-satunya hal yang kamu pikirkan,
Itu bukan cinta tetapi GOMBAL.

Kamu MENCINTAINYA,

Jumat, 11 April 2014

Puisi Untuk Afri II

Untukmu yang berulang tahun..
Tidur lah dengan lelap..
Jangan hiraukan semua yang mengganggu tidurmu..
Beristirahat lah dengan damai di ranjangmu..

Lupakan semua yang meresahkanmu..
Karena ini adalah hari istimewa buat kamu..
Bergeraklah perlahan hai sang waktu..
Berhentilah sejenak walau untuk sekali saja..

Walau mungkin ku terlambat..
Karna ku ingin menjadi penutup..
Penutup hari istimewamu..
Selamat ulang tahun aku ucapkan..

Biarpun tak semahal berlian..
Meskipun tak sewangi bunga mawar..
Dan tak seindah rangkaian puisi..
Hanya kalimat sederhana yang merangkum semuanya..

Dengan doa di setiap kata yang terucap..
Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun..
Pentingkah saling melempar kue yang tak termakan..
Perlukah kita membiarkan diri berfoya-foya..

Kadang hadiah terbaik..
Datang dari sebuah pemahaman..
Maka merenunglah sejenak di hari kelahiranmu..
Kamu sudah bertambah dewasa sekarang..
"Selamat Ulang Tahun Sahabatku"

Jumat, 04 April 2014

Tarian Aksara

Senja...
Ku kerap menjamu meja tumpukan penuh kertas
Ajak tanganku membelaitiap lembarnya
Berharap kanvas ku penuhi putihnya
Hingga jadi warna tarian erotik kata
Melingkarlah tubuh sajak lalui jingganya senja

Lalu...

Ku kan bisikkan pada telinga titik tuk berhenti
Pada mata koma tuk memenggal sebagian sajian yang belum sempurna
Dan kuurai aksara mu pelan
Janggal ku nikmati tetesan tintaku
Masih tercecer aksara mengadu

Lalu

Lirih teramat lirih
Ku tarik engkau aksara penghibur
Agar ranumnya kian jelas meski waktu menghapusnya
Aku tak perduli!!!
Karena ribuan spasi tak menindas mati membujur untaian kejujuran
Dia menjadi alas hingga ujung bait meminta akhiri belukarnya kata

Maka jadilah semak aksara yang niscaya kan bahagia

Sabtu, 08 Maret 2014

Asmara Dalam Aksara

Ada asmara dalam aksara
Ketika kita hanya bisa berbalas kata
Ketika langit sendu dan terbata-bata
Melantun, merindu lalu mendua

Asmara tanpa kata
Ada aku... kamu... dia
Ketika dia melanda dalam dada
Maafku untukmu tak terbina

Aksara... Aku pada dia
Padamu.. Jangan dulu berlalu
Mungkin cukup saat ini bagiku
Dalam aksara yang sempat berwarna

Mungkin bintang tengah melilitkan rinduku padanya
Aku denganmu, seolah merona karenanya
Hampir saja, ya
Ya, dalam Psychedelia

Kupu Bunga

Kupu-kupu itu telah menjadi kau
Sayangnya menjadi aku dalam senyap
Menyaksikan dari tiada menjadi ada
Seperti datangmu menjadi pergimu

Dentang jantung mengiringi
Tarian waktu yang berjinjit
Perlahan wajahmu menjadi tipuan
Jika percaya janyalah mengingat
Keraguan adalah cara melupakan

Terbakar gambarmu menjadi abu
Tertabur di danau keheningan

Di mana aku adalah di manaa

Selasa, 04 Maret 2014

Sajak

Musim telah mengganti di sekeliling kita tiap waktu
Rasa ini bergetar seperti sekuntum bunga yang tak pernah layu
Aku memikirkan dirimu

Kata yang saling kita mainkan bagai melodi yang indah
Aku bahagia memilikimu di dekatku
Sehingga mata yang tengah tersenyum itu takkan menangis
Aku akan melakukannya, sehingga engkau takkan melihat bintang di malam hari

Kehidupan Di Matamu

Tak terhitung… masa-masa yang telah terlewati
Seberapa besarkah aku sungguh-sungguh mengenal dirimu?
Tak sesederhana menyusuri selembar peta dengan jarimu
Aku tahu engkau sedang mencoba menyembunyikan raut kegelisahanmu

Seolah melawan hari esok yang kian mendekat
Aku berjalan di sekitar, masih saja ia berupa ketakjuban… betapa hatiku penuh akan dirimu.

Jika aku menengadah, gemerlapan meluap-luap, tak akan pernah memudar
Andai aku dapat seperti matahari yang selalu bersinar cemerlang

Senin, 20 Januari 2014

Bukan Pujangga

Aku bukanlah seorang pujangga
Yang hanya bermodalkan puisi cinta
Aku bukan juga seorang penyair atau puitis
Yang menulis cinta pada selembar kertas

Aku hanyalah seorang pria
Yang sedang menggagumi seorang wanita
Aku bukan pujangga tapi  hanya pengagum rahasia
Yang mencoba menanam benih kasih sayang pada seorang wanita

Bagai Aku

Hatiku termakan usia, diantara matahari dan bulan
Hanya ingin dicinta dan mencinta
Di mana kau saat ini?
Bagaikan terbang terbawa meteor
Kau hilang!

Tinggallah aku sendiri
Menunggu di jemput oleh waktu
Bagai lapar yang mencari panganan
Bagai dahaga yang mencari air
Bagai segala bagai yang mencari bagai


Kamis, 16 Januari 2014

Tanah Air Mata

Indonesia adalah Tanah air Beta
Mata air dari segala harapan Beta

:Tapi mengapa?


Nyayian anak-anak jalanan menggema

Di lorong dan di gang keresahan
Hancurnya sebuah mimpi keadilan
Terpuruk dan terhina di jurang kenistaan

Coba tanyakan pada dirimu sendiri

Riwayat bangsa di bohongi penguasa
Saksikanlah sinetron neokolonialisme
Pemirsa ternganga dan terharu

Apakah ini Tanah air Beta?

Yang dulu aman dan sejahtera
Apakah ini Tanah air Beta?
Yang kaya akan segala-galanya

Ternyata benar
Ini Indonesia Tanah air Beta
Sudah banyak tikus, kecoa, dan serigala
Apa yang harus Beta lakukan?

:Hanya bisa diam

Minggu, 12 Januari 2014

Puisi Pagi

Fajar tertepis hangatnya sinar matari
Walau ku masih ingin memeluk kedamaian pagi
Menenangkan jiwa yang kian rapuh
Terkikis kesepian hati yang yang berlarut-larut

Hari yang erlalu adalah hampa
Kosong, ibarat tersesat di hamparan ladang ilalang
Tanpa arah menggapi nafsu
Menepiskan akal sehat, tenggelam dalam dunia fatamorgana

Ku berharap hari ini benar-benar ada
Tak hanya diam, terinjak takdir kehidupan
Tak hanya bersandar alasan, berpaling dari kenyataan
Karena ku ingin melukis pelangi di dalam hidupku

Sabtu, 11 Januari 2014

Sajak Lagumu

Kala sang surya tenggelam, Aku mengenangmu
Mengenang saat pertama kali jumpa Dirimu
Kusadari bila aku jatuh cinta
Jatuh cinta pada pandangan yang pertama

Bagaikan dalam penjara jiwa
Waktu demi waktu kulalui dalam ruang rindu
Hanya untuk menanti sebuah jawaban
Mungkin Aku keliru dan tak ada logika

Namun salahkan aku terlalu mencintaimu?
Ku tak mau hanya jadi sahabatmu
atau hanya jadi teman tapi mesramu
Jadikanlah diriku sebgai piihan terakhirmu

Dengan membawa laskar cinta
Dan atas nama cinta
Kumohon izinkan aku menyayangimu

Kawan

Kawan,
Tahukah kamu berapa masa kita lewati bersama?
Aku tak ingin tahu hal itu,
Karna kamu selamanya bagiku

Bersamamu,
Tangisku menjadi tawa
Dukaku kan terpecah jadi bahagia
Air mata yang terlanjur jatuh
Tak akan berubah jadi nestapa

Terkadang di satu waktu
Prasangka pernah memisahkan kita
Amarah yang datang tiba-tiba
Tak kan mungkin bertahan lama

Ingantkan kawan
Kita pernah duduk bersama
Melukis langit dengan impian
Tentang Aku, Kamu dan Kehidupan