Senin, 28 April 2014

Cinta?

Bila telapak tanganmu berkeringat,
Hatimu dag dig dug,
Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,
Itu bukan cinta, tetapi SUKA.

Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
Itu bukan cinta tetapi BIRAHI.

Bila kamu menginginkannya karena tahu
Ia akan selalu berada di sampingmu,
Itu bukan cinta tetapi KESEPIAN.

Bila kamu menerima pernyataan cintanya
Karena kamu tak mau menyakiti hatinya,
Itu bukan cinta tetapi KASIHAN.

Bila kamu bersedia memberikan semua
Yang kamu sukai demi dia,
Itu bukan cinta tetapi KEMURAHAN HATI.

Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya
Kepada semua orang,
Itu bukan cinta tetapi KEMUJURAN.

Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah
Satu-satunya hal yang kamu pikirkan,
Itu bukan cinta tetapi GOMBAL.

Kamu MENCINTAINYA,

Jumat, 11 April 2014

Puisi Untuk Afri II

Untukmu yang berulang tahun..
Tidur lah dengan lelap..
Jangan hiraukan semua yang mengganggu tidurmu..
Beristirahat lah dengan damai di ranjangmu..

Lupakan semua yang meresahkanmu..
Karena ini adalah hari istimewa buat kamu..
Bergeraklah perlahan hai sang waktu..
Berhentilah sejenak walau untuk sekali saja..

Walau mungkin ku terlambat..
Karna ku ingin menjadi penutup..
Penutup hari istimewamu..
Selamat ulang tahun aku ucapkan..

Biarpun tak semahal berlian..
Meskipun tak sewangi bunga mawar..
Dan tak seindah rangkaian puisi..
Hanya kalimat sederhana yang merangkum semuanya..

Dengan doa di setiap kata yang terucap..
Haruskah meniup lilin ketika kamu berulang tahun..
Pentingkah saling melempar kue yang tak termakan..
Perlukah kita membiarkan diri berfoya-foya..

Kadang hadiah terbaik..
Datang dari sebuah pemahaman..
Maka merenunglah sejenak di hari kelahiranmu..
Kamu sudah bertambah dewasa sekarang..
"Selamat Ulang Tahun Sahabatku"

Kamis, 10 April 2014

Puisi Buat Afri

Kencang sang waktu berlari tak mampu ku kendalikan
Dan tak mampu aku perlambat lajunya
Dentang lonceng malam ini tepat kau berusia dewasa
Mengiringi usia kisah kita

Tidaklah berupa rangkaian bunga
Ataupun boneka beruang seperti kepunyaan Alice
Tidak pula sebuah puisi yang ditulis dengan pena penuh puja dan puji

Aku berharap di usia Mu ini
Kau di beri hadiah oleh Tuhan berupa kesabaran
Sehingga saat kesakitan datang kau bisa hadapi
Dan kembali berdiri meskipun tanpa satu kaki Mu

Dan Aku berdoa agar Tuhan senantiasa mengutus malaikatnya
Untuk menjaga Mu di setiap engkau melangkah
Karena aku sadari aku tak bisa menjaga Mu seutuhnya
Meskipun aku berusaha untuk seperti itu

Doa dan Harap ini akan terus Ku ucap
Bukan hanya saat ini . .

Jumat, 04 April 2014

Tarian Aksara

Senja...
Ku kerap menjamu meja tumpukan penuh kertas
Ajak tanganku membelaitiap lembarnya
Berharap kanvas ku penuhi putihnya
Hingga jadi warna tarian erotik kata
Melingkarlah tubuh sajak lalui jingganya senja

Lalu...

Ku kan bisikkan pada telinga titik tuk berhenti
Pada mata koma tuk memenggal sebagian sajian yang belum sempurna
Dan kuurai aksara mu pelan
Janggal ku nikmati tetesan tintaku
Masih tercecer aksara mengadu

Lalu

Lirih teramat lirih
Ku tarik engkau aksara penghibur
Agar ranumnya kian jelas meski waktu menghapusnya
Aku tak perduli!!!
Karena ribuan spasi tak menindas mati membujur untaian kejujuran
Dia menjadi alas hingga ujung bait meminta akhiri belukarnya kata

Maka jadilah semak aksara yang niscaya kan bahagia

Sabtu, 08 Maret 2014

Asmara Dalam Aksara

Ada asmara dalam aksara
Ketika kita hanya bisa berbalas kata
Ketika langit sendu dan terbata-bata
Melantun, merindu lalu mendua

Asmara tanpa kata
Ada aku... kamu... dia
Ketika dia melanda dalam dada
Maafku untukmu tak terbina

Aksara... Aku pada dia
Padamu.. Jangan dulu berlalu
Mungkin cukup saat ini bagiku
Dalam aksara yang sempat berwarna

Mungkin bintang tengah melilitkan rinduku padanya
Aku denganmu, seolah merona karenanya
Hampir saja, ya
Ya, dalam Psychedelia

Kupu Bunga

Kupu-kupu itu telah menjadi kau
Sayangnya menjadi aku dalam senyap
Menyaksikan dari tiada menjadi ada
Seperti datangmu menjadi pergimu

Dentang jantung mengiringi
Tarian waktu yang berjinjit
Perlahan wajahmu menjadi tipuan
Jika percaya janyalah mengingat
Keraguan adalah cara melupakan

Terbakar gambarmu menjadi abu
Tertabur di danau keheningan

Di mana aku adalah di manaa

Jumat, 07 Maret 2014

Hei, Kamu!

Hanya ada satu alasan yang memungkinkan, penyebab aku kembali ke tempat ini. Sesuatu yang terus bertalu-talu demikiannya mendorong langkahku kembali. Yang tak bisa kudefinisikan apa. Yang tak pernah bisa berhasil kuterjemahkan ke dalam bentuk frasa yang terangkai. Bahkan hanya sebuah pengakuan kecil saja barangkali, terhadap hatiku yang melulu sakit, juga terhadap diriku yang entah rasanya seperti tulang-belulang yang ringkih berdiri.

Aku menyangkal. Dalam bentuk apapun jelmaan dirimu yang masih saja tinggal di sudut otakku. Aku mengoreknya agar ia mau keluar dari kediamannya, tetap aku sia-sia. Hal yang selalu sama yang kulakukan sedari dulu, enam tahun yang lalu. Jika aku sempat menghitungnya berapa kali aku menyangkal, berapa kali aku menghindar, berapa kali aku menipu diriku sendiri, dan berapa kali aku mencoba menjauh. Tapi pada akhirnya aku selalu kalah dalam perseteruan tak tertulis ini. Mengalah pada perasaan yang bodoh ini. Mengaku malu pada langit sepi yang berkali-kali menertawakan kegagalanku.

Selasa, 04 Maret 2014

Sajak

Musim telah mengganti di sekeliling kita tiap waktu
Rasa ini bergetar seperti sekuntum bunga yang tak pernah layu
Aku memikirkan dirimu

Kata yang saling kita mainkan bagai melodi yang indah
Aku bahagia memilikimu di dekatku
Sehingga mata yang tengah tersenyum itu takkan menangis
Aku akan melakukannya, sehingga engkau takkan melihat bintang di malam hari

Kehidupan Di Matamu

Tak terhitung… masa-masa yang telah terlewati
Seberapa besarkah aku sungguh-sungguh mengenal dirimu?
Tak sesederhana menyusuri selembar peta dengan jarimu
Aku tahu engkau sedang mencoba menyembunyikan raut kegelisahanmu

Seolah melawan hari esok yang kian mendekat
Aku berjalan di sekitar, masih saja ia berupa ketakjuban… betapa hatiku penuh akan dirimu.

Jika aku menengadah, gemerlapan meluap-luap, tak akan pernah memudar
Andai aku dapat seperti matahari yang selalu bersinar cemerlang

Minggu, 02 Maret 2014

Di Antara Hujan

Aku membuka jendela kamarku saat hujan mulai turun, menghirup napas dalam semampuku, menikmati aroma tanah kering yang baru saja tersiram air hujan. Tetes-tetes anugrah Tuhan yang satu ini selalu bisa membuatku nyaman. Aku pun tersenyum tanpa disadari. Untuk mendeskripsikan kecintaanku pada salah satu ciptaan dan karunia terindah yang diberi Tuhan ini rasanya sudah tak perlu lagi, ini adalah wujud nyata dari sumber kebahagiaanku. Hujan menyelipkan segala rasa termasuk duka, namun aku memilih bahagia sebagai kadar yang paling banyak di dalamnya. Lewat hujan aku belajar banyak hal, memaknai sebuah pesan bisu lewat karya Tuhan yang paling indah. Misalnya, kesedihan. Perasaan itu hadir saat ada awan hitam menggeser awan putih, awan itu menimbulkan efek yang menakutkan lewat hujan yang sangat deras dan lewat gemuruh petir yang memekakkan. Namun, awan itu hadir hanya sebentar, awan itu sedang menguji kita. Dia ingin melihat apakah kita akan tetap tinggal dan menunggunya reda atau pergi menembusnya. Atau mungkin sebagian orang akan menikmati kehadirannya, kita tidak tahu. Perlahan awan itu bergerak pergi meninggalkan sisa-sisa gerimis, awan putih mulai hadir kembali. Hujan dan awan merupakan satu kesatuan yang kukagumi. Bahkan Tuhan menyelipkan pelangi di dalamnya, menambah keindahan lukisan alam yang memesona. Entah siapa yang memulai, semua orang tahu pelangi akan hadir beriringan setelah badai reda. Setiap orang memaknainya seperti itu, tapi kenapa kita tak pernah tahu jika kita bahkan bisa menari di tengah iringan badai? Memaknai segalanya semudah mungkin karena meyakini satu hal, badai singgah tak akan lama, maka nikmatilah.